Beranda > Uncategorized > “Punya Anak Perempuan Seperti Punya Warung” Oleh Abdullah Alawi*

“Punya Anak Perempuan Seperti Punya Warung” Oleh Abdullah Alawi*

“Min, sekarang aku ingin anak perempuan. Aku sudah bosan punya dua anak laki-laki,” kata Jalu sambil membelai-belai perut Mimin, isterinya yang sedang hamil.
Mimin yang sedang menjahit pakaian pesanan tetangganya itu segera menghentikan kegiatannya. Meski dalam keadaan hamil, dia kebanjiran order, dan dia terus mengerjakannya. Lumayan menambah penghasilan, daripada mengandalkan ngojek suaminya yang hasilnya tak seberapa, kadang juga tak membawa hasil.
“Kenapa?” tanya Mimin sambil mematikan stroom mesin jahit.
Jalu tidak menjawab. Dia terus membelai perut Mimin yang menggelembung seolah sedang bercakap dengan janin yang menghuni di dalamnya. Pikiran Jalu masih terpaut pada kata-kata mang Dasim ketika ngobrol di warung mang Kardi tadi pagi saat menunggu penumpang.
“Sekarang, kalau punya anak mendingan perempuan. Punya anak perempuan, berarti nantinya kita punya “warung”!” kata mang Dasim.
Jalu yang hendak minum kopi itu, meletakkan kembali gelasnya di atas meja. “Kenapa?” tanyanya penasaran.
“Kalau sudah menjadi gadis, tiap malam minggu pemuda-pemuda datang. Apel! Biasanya kan mereka bawa makanan. Sekeluarga kebagian. Aku juga biasanya dapat jatah rokok barang sebungkus atau dua bungkus. Jadi, beberapa hari aku tak perlu beli rokok. Nah, rokok yang kamu hisap itu adalah rokok pemberian dari pacar anakku.”
“Tapi bagaimana kalau sudah tidak berduit?”
“Suruh diputusin saja. Gampang! Gonta-ganti pacar nggak apa-apa,” kata mang Dasim lagi.
Jalu mengangguk-angguk. Dia mulai menyeruput kopi hangat yang sempat tertunda.
“Orang tua harus berperan, “kata mang Dasim melanjutkan, “harus pandai mencarikan orang kaya buat anak gadisnya. Orang kaya kan biasanya royal dalam urusan perempuan. Apalagi kalau anaknya cantik. Seperti si Siti, anak tetanggaku. Sekarang sudah tunangan. Pengikatnya adalah cincin dan kalung yang bisa membeli satu hektare tanah dan sepasang kerbau. Bagaimana tidak senang? Ayahnya, haji Dulah, disebut-sebut sebagai calon orang kaya baru di kampung ini,” kata mang Dasim lagi sambil menghisap rokok dengan nikmat sekali dan tanpa beban.
“Tapi kasihan, calon suaminya itu umurnya setua haji Dulah. Dan katanya dijadikan isteri ketiga…”
“Masalah tua atau muda, atau dijadikan isteri ke berapa pun, itu urusan lain. Kalau suaminya sudah tua kan nanti cepat mati, tentu dapat warisan. Yang penting anak kita untung, orang tua makmur.”
“Bagaimana misalnya kalau anak kita tidak mau?”
“Ya dipakasa sampai mau. Memaksa itu tidak selamanya jelek. Kita, para orang tua lebih tahu dan berpengalaman. Lagi pula itu untuk kesenangan masa depan anak kita juga.”
“Tapi bukankah anak perempuan itu banyak memerlukan uang? Misalnya beli lipstik, bedak untuk dandan, atau pakaian yang bagus-bagus?”
“Memang, tapi itu sebentar. Perempuan itu cepat dewasa, tidak seperti anak laki-laki. Selepas sekolah, tunggu saja beberapa tahun, nanti juga ada jodohnya. Kita cuma modal bedak dan lipstik supaya dia mau dandan.”
Jalu mengangguk-angguk lagi.
“Selain itu, keringanan punya anak perempuan bisa dihitung berdasar agama. Coba kita hitung, kalau aqiqah, cuma satu ekor kambing atau domba, sementara laki-laki harus dua! Dan nanti, saat pembagian warisan, dia hanya kebagian setengah dari laki-laki…”
Jalu tertegun mendengar penjelasan seperti itu.
“Keuntungan lainnya banyak juga. Sekarang lapangan kerja buat perempuan itu banyak sekali. Pabrik-pabrik membuka lowongan kerja sampai ribuan orang hanya untuk perempuan. Mulai dari pelayan toko, counter hp, pelayan SPBU sampai satpam sekarang ada yang perempuan. Atau sederhannya menjadi pembantu rumah tangga di kota-kota besar…”
“Bisa juga menjadi TKW ke luar negeri,” kata Jalu menambahkan.
“Betul! Enak banget kalau punya isteri jadi TKW. Coba perhatikan saja mang Karta, setiap hari kerjanya di rumah. Paling banter mengantar anak-anaknya ke sekolah. Yang membiayai, ya isterinya dari Saudi. Atau si Juned yang kerjanya luntang-lantung tak jelas. Tidur dimana saja seperti anak muda. Kadang nyangkut di rumah janda muda sebelah rumahnya. Tapi tiap bulan dapat wesel dari isterinya…”
Cara pandang mang Dasim begitu merasuk ke dalam pikiran Jalu. Dia baru sadar kenapa tetangga-tetangganya menginginkan anak perempuan. Ketika ingat isterinya sedang mengandung, dia pun bercita-cita ingin punya anak perempuan.
“Kenapa kang, kok melamun terus?” tegur Mimin karena Jalu masih terdiam sambil terus mengelus perutnya.
“Min, aku ingin anak perempuan. Seminggu yang lalu aku bermimpi anak yang terlahir dari perutmu adalah perempuan. Cantik sekali. Persis seperti yang kita inginkan. Aku telah mempersiapkan nama untuknya…”
“Anak itu, laki-laki atau perempuan sama saja, kang. Sama-sama titipan Tuhan. Harus dipelihara dan dididik dengan baik-baik.”
“Tidak! Punya anak laki-laki itu Mahal! Pendidikannya harus tinggi! Susah cari kerja pula nantinya. Tapi kalau punya anak perempuan, berarti kita punya “warung”.”
Mimin mengerenyitkan dahi. Di heran suaminya memiliki pikiran seperti itu.
***

Ternyata anak yang dilahirkan Mimin itu adalah laki-laki. Beberapa hari Jalu kelihatan murung. Kelakuannnya uring-uringan. “Warung” yang ditunggunya belum datang.
“Min, aku ingin anak perempuan. Kamu harus cepat hamil kembali!” begitu kata Jalu setelah Mimin selesai masa nifasnya.
Mimin terdiam. Dia tak habis pikir dengan keinginan Jalu. Tapi dia tak bisa menolak, karena Jalu pasti membentak. Beberapa bulan kemudian, Mimin hamil kembali. Dan ketika dia melahirkan, bayi itu ternyata laki-laki.
Jalu makin jengkel saja. Dia langsung minta Mimin untuk hamil kembali. Mimin pasrah saja akan keinginan makhluk yang berlabel suami itu. Dia sebenarnya ingin menunda melahirkan. Dari perutnya telah keluar empat manusia dengan selisih setahun. Capek sekali rasanya. Lagi pula, melahirkan itu bukan masalah gampang. Nyawa jadi taruhannya. Antara hidup dan mati itu sangat tipis jaraknya. Bahkan mungkin tidak berjarak. Di sisi lain, dia harus bekerja membantu suaminya menghidupi keluarga. Tentu saja Jalu tak pernah tahu dan tak mau tahu apa yang dirasakan Mimin.
Entah berapa kali Jalu memaksa Mimin supaya hamil dan melahirkan anak perempuan. Sudah berkali-kali pula Mimin menerangkan bahwa, siapa pun tak ada yang bisa menentukan jenis kelamin seseorang. Dokter yang paling genius dengan alat tercanggih pun, tidak bisa. Ilmu kedokteran cuma bisa menebak jenis kelaminnya. Dan itu pun masih bisa salah. Tapi Jalu tetap pada pendiriannya; ingin anak perempuan. Keinginan itu sekarang bahkan disertai ancaman; kalau Mimin tidak melahirkan bayi perempuan, dia akan dimadu. Kalau tidak mau, berarti bercerai!
Mimin kembali menyerah. Terpaksa hamil lagi.
Untuk mencapai cita-citanya, diam-diam Jalu bertanya kepada tetangga-tetangga mengenai cara-cara mendapat anak perempuan. Tidak puas keterangan dari tetangga, dia bertanya pada paraji**, kiai dan bahkan dukun. Doa-doa, mantera-mantera, tirakat sampai cara senggama dia tanyakan. Bahkan akhir-akhir ini dia sering melakukan Shalat malam yang tak pernah dia lakukan.
Pada saat upacara nujuhbulan, Jalu tidak meminta kiai untuk membaca surat Yusuf, tetapi surat Maryam. Seolah yakin bahwa bayi yang akan lahir adalah perempuan.
***

Mimin hampir melahirkan. Saat-saat mendebarkan bagi Jalu pun datang. Dia gelisah seperti anak SD mengintip raportnya di akhir tahun pelajaran. Kerjaannya bolak-balik di tengah rumah. Kadang menengok sebentar ke kamar, tempat isterinya menjalani persalinan berjuang antara hidup dan mati. Mimin ternyata mengalami proses melahirkan yang paling lama dari anak-anaknya yang lain. Tapi itu tak menjadi perhatian Jalu. Entah berapa kali peraji itu melapalkan mantera. Mertuanya bolak-balik meminta doa kiai setempat. Sementara Jalu tak berbuat apa-apa. Dalam pikirannya hanya membayangkan bahwa anak yang lahir itu perempuan. Itu saja!
Bayi yang lahir ternyata perempuan. Betapa sumringahnya Jalu. Dia seperti anak kecil yang mendapat hadiah sepeda di hari ulang tahunnya. Seandainya tak dilarang oleh peraji, dia ingin langsung mengarak bayinya keliling kampung, seperti Abdul Muthalib mengelilingi Ka’bah ketika Muhammad, cucunya lahir. Dia hampir lupa azan dan iqamah di telinga anak yang nantinya akan membawa “warung” itu.
“Wah, sebentar lagi kamu punya “warung”,” kata mang Dasim ketika bertemu dengan Jalu di warung mang Kardi. Dia pun tersenyum penuh kebanggaan dan harapan.
Ciputat, Desember 2007

*penulis adalah warga Piramida Circle Ciputat
**peraji adalah orang yang biasa membantu persalinan. Biasanya perempuan.

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.